DSC_3485 Aku  anak ke kedua dari tiga bersaudara, Nulun Wiyana adalah kakakku dan Adri Nadana Adalah adikku. Aku di lahirkan di Bandung tanggal 17 juli 1991 dari kedua orang tuaku yang sangat menyayangiku yaitu Bapak Yatna Priatna dan Ibu Enok Kurnia.

Bana, sebuah nama yang di berikan kepadaku sebagai symbol kedekatan kami, mereka memanggilku dengan sebuah nama itu. Dan Alan Albana-lah sebuah nama yang menjadi  doa dan harapan kedua orang untuk diriku. Demi harapan yg selalu di selipkan dalam kata, dan di bisikan dalam setiap sujud malamnya agar kelak albana kecilnya bisa menjelma seperti seorang tokoh ihkwanul muslimin, pembangun akhlak dan pembela agama islam yaitu Imam Hassan Al banna. Ikhtiar yang di lakukan oleh seorang bapak yang berprofesi sebagai seorang guru SMK dan mengambil sebuah keputusan untuk mnyekolahkanku di Pesantren persatuan islam 1 pajagalan Bandung sungguh sangat tepat, karena disanalah aku menuntut ilmu dan banyak sekali pengalaman–pengalaman yang sangat luar biasa ketika bersekolah disana, dan di pesantren itulah yang menjadi salah satu langkah awal menuju karir aku menjadi seorang penyiar radio.

Berawal dari seringnya mendengarkan radio sejak belajar di bangku sekolah kelas dua 285419_1804382603245_2637812_nTsanawiyah di pesantren persatuan islam 84 ciganitri, angan-angan menjadi seorang penyiar radio pun terbawa sampai sekarang. Sampai-sampai kebiasaanku setiap hari di kelas itu selalu membicarakan tentang radio, penyiar, music dan lagu hingga membuat kelas teramat bising karena kelakuanku dengan kedua teman-temanku, yaitu Adi Nurfurqon dan Hasan Abdurrohman yang sama-sama menyukai hal seperti itu. Senang sekali rasanya bisa berkenalan dan menjadi teman seseorang yang bernama Zakiyah Annisa. Ia adalah seorang murid PPI 1 Pajagalan Bandung yang bisa mengantarkanku untuk bergabung di Announcer School Pro2 RRI Bandung yaitu salah satu komunitas kepenyiaran dan disanalah pertama kalinya aku menginjakan kaki 521902_4029278984264_1316614272_ndi sebuah radio anak muda di kota bandung. Kurang lebih sekitar tiga tahun belajar di Announcer school pro2 RRI Bandung, Alhamdulillah banyak sekali ilmu – ilmu tentang dunia broadcast radio disana. Mulai belajar menjadi seorang penyiar, reporter, scriptwriter, Mc dan masih banyak sekali ilmu-ilmu yang di dapat dengan gratis. Bekal dari Announcer school pro2 RRI Bandung pun kujadikan sebuah kepercayaan diri yang melekat, terasa ketika bergaul dengan teman – teman dilingkungan seperti apapun, maupun di lingkungan sekolah, aku lebih berbeda dan percaya diri. Namun, dengan bekal ilmu dari announcer school itu, aku belum merasa puas dan aku pun kembali melanjutkan untuk terus mengasah kemampuanku di MBS MQ fm Broadcasting School. Dengan tekad yang kuat ingin mengikuti sekolah broadcast di Salah satu Radio religi di kota bandung tersebut, aku rela menjual kamera kesayangan yang aku perjuangkan berbulan-bulan menabung untuk mendapatkannya. Tapi demi bisa mengikuti sekolah broadcast radio itu, tanpa pikir panjang aku melepaskannya. Tiga bulan sudah aku mengikuti MBS di daerah Geger kalong girang baru, senang sekali rasanya punya banyak teman baru yang sama menyukai dunia broadcast radio. Namun, yang lebih menyenangkan lagi adalah ketika diinformasikan sebuah pengumuman bahwa ada beberapa orang yang terbaik akan terpilih untuk menjadi penyiar MQ fm. Saat itu berbisik dalam hati, senang rasanya bila bisa menjadi penyiar Mq fm, minimal bisa memberikan kabar gembira kepada kedua orang tuaku. Ketika itu dipilihlah 5 orang yang akan menjadi penyiar MQ fm dan aku bukan salah satunya. Aku pun berfikir, mungkin memang pada saat itu Allah lebih tahu mana yang terbaik untukku.

Satu bulan berlalu setelah mengikuti Sekolah broadcast radio. Aku menjadi salah satu panitia untuk acara QWT Quantum Writing Training atau sejenis acara pelatihan menulis untuk anak-anak tingkat SMA. Ketika itu aku menjadi divisi untuk media partner dan tentu tugasku adalah mencari media-media baik itu media cetak maupun elektronik untuk mempublikasikan acara QWT. Saat itu aku memasukan proposal ke media elektronik yaitu radio MQ fm. Disana aku bertemu kenbali dengan produser MQ fm yaitu Sigit Kurniawan. Seteleh selasai proposal kerja sama di tandatangani. Setelah itu, kang Sigit pun bertanya sesuatu hal padaku, ia menanyakan mengapa ketidakikutan Alan ke MBS level 2. Dan Alan pun jawab, kalau Alan tidak punya uang lagi dan untuk mengikuti MBS kemarin pun harus mengorbankan kamera sendiri. Setelah mendengar penjelasan Alan, Kang Sigit pun mengangguk dan beliau memberikan kesempatan untuk Alan mengikuti audisi menjadi penyiar MQ fm dan menyuruh Alan untuk mempelajari lagi apa yang sudah diajarkan. Mendengar kata-kata itu sungguh sangat menyenangkan, Alan pun kembali bersemangat dan mulai giat belajar-belajar dan belajar. Tibalah audisi di MQ fm, dan saat itu mulailah peserta satu persatu di panggil untuk test vocal. Dan setelah selesainya take vocal, kang Sigit selaku produser pun nantinya akan menghubungi apabila ternyata terpilih untuk bergabung di tim MQ fm sebagai penyiar.

Dua minggu berlalu, aku pun sudah mulai lupa dengan audisi tersebuFoto(178)1t dan tiba-tiba ditengah-tengah aku sedang bercanda gurau dengan teman semahasiswa di kantin, handphone-ku berdering, aku angkat dan ternyata itu telepon dari kang Sigit dan mengabarkan bahwa ternyata aku terpilih dan kang Sigit menyuruh untuk membawa surat lamaran keesokan harinya. Waahhh itu adalah hari yang sangat bahagia, tidak menyangka akan terpilih untuk menjadi penyiar radio di MQ fm. Akhirnya hari demi hari terus aku lalui untuk siaran di radio MQ fm, senang, bahagia dan seru pokoknya menjadi seorang penyiar radio.

Bulan ke bulan pun berlalu. Tidak terasa sudah sekitar Sembilan bulan menjadi penyiar radio di MQ fm. Namun, perkembangan siaranku di MQ fm mulai menemukan titik jenuh. Ada beberapa hal yang menjadi sebuah kendala dalam siaranku karena kurang fahamnya dalam melatih vocal. Alhasil, timbre suaraku tidak memenuhi Kriteria MQ fm, dan Akhirnya ikhtiarku hanya sampai Sembilan bulan siaran di MQ fm. Walaupun terbilang singkat berada di MQ fm, tapi aku tetap bersyukur karena banyak pengalaman yang aku dapatkan disana, mulai dari siaran anak-anak, siaran remaja sampai siaran dewasa. Pengalaman menjadi penyiar radio di MQ fm adalah hal yang terindah yang pernah aku alami.

Enam bulan berlalu vakum dari siaran radio, rasanya terasa hampa. Maka aku memilih mempersibuk diri dengan hal-hal yang positif, seperti berorganisasi di kampus, dan mengikuti UKM seperti mahasiswa pecinta alam. Dan ketika disela – sela aktivitas kesibukan kampus, tiba-tiba saja  kang Rio salah satu penyiar pro2 RRI Bandung menelpon dan mengajak kembali untuk belajar dan siaran di Pro2 RRI Bandung. Aku pun kegirangan dan meiyakan tawaran kang Rio untuk kembali bergabung di dunia broadcast radio. Disana aku mulai kembali belajar lagi beberapa hal yang belum aku kuasa dan mendapatkan lagi jadwal siaran dan menemani siarang kang Rio dan kawan-kawan Alan Announcer schooldi acara Announcer school di hari sabtu dan minggu dari pukul 12.00 wib sampai 13.00 wib dan acara Groovi night setiap malam minggu dari pukul 20.30 wib sampai 24.00 wib.

Tidak terasa kurang sudah lebih empat bulan aku siaran dan belajar di Pro2 1014403_4759795806728_1541680672_nAnnouncer school RRI Bandung. Ditengah-tengah perjuanganku di RRI Bandung itu, aku bertemu dengan salah satu penyiar pro2 yaitu kang Abot. Ketika sharing tentang siaran radio, kang Abot menawarkan tempat training yaitu PCP pelatihan calon penyiar radio Sonata. Dan kang abot mengatakan kalau yang mengajar di PCP itu adalah gurunya juga ketika saat kang Abot menjadi penyiar di radio Sonata. Wah merasa penasaran juga, akhirnya aku pun memutuskan untuk mencoba mengikuti PCP atau pelatihan calon penyiar radio sonata. Setiba di jalan R.E Marthadinata no 157 gedung pramuka lantai 2, akupun bertemu dengan Trainer PCP-nya  yaitu kang Jabar atau biasa disebut om Yon. Beberapa menit berbincang mengenai masalah penyiar radio, dan akhirnya om Yon ini menawarkan beberapa training. Aku putuskan untuk mengikuti kelas basic untuk di pelatihan calon penyiar di radio sonata fm. Tidak terasa tiga bulan pun berlalu, banyak sekali manfaat dan ilmu yang aku dapatkan di radio Sonata. Sedikit banyak mulai mengerti ternyata masih banyak kemampuan yang harus aku asah untuk terjun didunia broadcast radio. Alhamdulillah, ketika beres menyelesaikan training selama tiga bulan di radio sonata fm, aku mendapatkan nilai A untuk setiap materi pembelajaran disana.

Berbekal ilmu-ilmu broadcast radio yang sudah aku dapatkan, m2013-07-29 23.10.14ulai dari Announcer school pro2 RRI Bandung, MQ fm Broadcasting school dan Pelatihan calon penyiar sonata membuat aku semakin penasaran. Penasaran sampai dimana ilmu ini bisa berguna, Apa sudah layakah bisa masuk dunia radio yang sebenarnya? Atau malah berhenti sampai disini saja?. Itu yang selalu terngiang-ngiang di pikiranku. Akhirnya aku memutuskan untuk memasukan surat lamaran kerja ke radio sonata, karena aku sedikit banyak tahu dan mengerti seperti apa radio sonata itu. Kurang lebih sekitar empat bulan aku siaran dan training di radio sonata, tiba-tiba aku mendapat telepon dari pa Juhatin beliau adalah kepala UPTD radio sonata. beliau meminta aku untuk menghadapnya di radio Sonata, ketika sudah sampai disana ternyata aku diterima kerja di radio sonata sebagai reporter, penyiar dan produksi. Senang sekali rasanya bisa menjadi penyiar radio dan menjadi seorang reporter.

1466138_10200435648487675_1549114058_n

Kurang lebih aku sudah menghabiskan waktu sekitar delapan bulan untuk siaran di radio sonata sampai sekarang, terasa susah senangnya perjuangan tetap aku jalani, karena ini adalah pekerjaan yang aku cintai. Ternyata menjadi seorang penyiar radio itu tidak hanya harus mengerti teknik announcing. Banyak sekali yang harus di kuasai, seperti harus bisa reportase atau menjadi seorang reporter, harus bisa menulis script atau menjadi scriptwriter harus mengerti software-sofware radio untuk nanti di bagian produksi radio, dan ternyata menjadi seorang penyiar radio itu tidak hanya cukup modal berbicara saja. Mungkin bagi sebagian orang mengatakan, menjadi penyiar itu tidak sekolah pun bisa, ya Cuma modal berbicara saja. Hay gays tidak semudah itu untuk menjadi seorang penyiar radio, wajib banyak belajar. Teringat sebuah perkataan seorang imam Hassan Al banna yang selalu menjadi sebuah motivasi, yaitu “kenyataan anda hari ini, adalah mimpi anda dimasa lalu. Kenyataan anda dimasa mendatang, adalah mimpi anda di masa sekarang. Intinya jangan pernah takut untuk bermimpi. Itulah sedikit pengalaman hidupku di dunia radio sampai sekarang.