Sobat wordpress yang saya banggakan, kali ini alan bakal share tentang ragam acara yg harus di ketahui pembawa acara, Dalam  berbagai kegiatan banyak sekali ragam kegiatan yang di laksanakan, seperti  upacara kenegaraan, seminar akademis, acara wisuda. Namun ada juga acara acara yg terkesan santai bahkan sangat santai seperti acara pentas seni anak anak, pagelaran musik dll. Di dalam buku “sukses jadi mc profesional, positif, inspiratif”  karangan ninda nindiani, ninda membagi jenis acara menjadi  4 Macam yaitu :

Upacara

Biasanya upacara bersifat dan mensyaratkan suasana yang resmi, baik dari isi acaranya maupun hadirin yang mengikutinya. Contoh upacara adalah upacara kenegaraan, upacara serah terima jabatan, upacara wisuda dan sebagainya.

Dalam acara seperti ini, MC akan mengantarkan acara demi acara dengan bahasa dan sikap yang  formal. Biasanya kalimat – kalimatnya pun sudah baku. Tidak berubah dari waktu ke waktu, kecuali nama – nama yang harus di sebutkan.

Acara Resmi/Formal

Acara ini juga mensyaratkan susunan yang formal, tapi tidak seketat acara berjenis Upacara. Contohnya adalah seminar, acara pernikahan, (upacaranya bukan resepsinya), peresmian gedung baru dll. Acara ini bisa terasa resmi, karena MC, penyampaian sambutan, dan hadirin bersikap resmi. Namun terkadang berubah sedikit cair bila sang penyampai sambutan menggunakan humor dalam sambutannya dan bersikap santai. Hadirin biasanya akan menyesuaikan dengan sikapnya, dan suasananya pun menjadi tidak terlalu resmi. MC boleh merespon suasana cair itu dengan tersenyum dan berekspresi dengan bahasa tubuh yang lebih santai, namun sebaiknya tetap menjalankan tugas dengan sikap yg formal, tidak turut berkomentar atau melucu supaya acara tidak berubah dari “pakem”nya. Memang sebagian MC piawai juga menanggapi gurauan dengan humor yang pantas. Namun bila anda merasa tidak terlalu mahir, lebih baik tidak merespon dengan humor yang mungkin justru terdengar tidak pantas diucapkan.

Acara Setengah Resmi/Semi Formal

Acara ini merupakan gabungan dari suasana resmi dan santai, mensyaratkan MC, pengisi acara, dan hadirin bersikap resmi saat acara-acara awal, namun kemudian suasana berubah mencair setelah acara resmi usai.

Contohnya adalah acara pisah sambut pejabat instansi. Acara semacam ini biasanya di dahului dengan sambutan-sambutan yang bersifat resmi (meskipun ada kemunkinan juga para penyampai sambutan melucu atau bercanda). Setelah sambutan-sambutan berakhir , dilanjutkan dengan hiburan, entah dengan tarian, paduan suara, band, dan sebagainya.

Dalam acara pisah sambut, biasanya pejabat yang akan pindah ke tempat/kota lain serta pejabat baru yang menggantikannya akan diminta menyanyi secara spontan, yang sering di sebut acara spontanitas. Mungkin saja acara ini betul-betul spontanitas, namun dapat pula sudah di persiapkan sebelumnya karena pejabat tersebut memang senang bernyanyi dan panitia telah  menyampaikan rencana acara itu sebelumnya kepada yang bersangkutan.

Acara ini  sangat cocok bila di bawakan oleh seorang MC yang dapat menyanyi juga. Atau paling tidak, MC mengerti tentang lagu-lagu sehingga mudah membuat kalimat kalimat sebagai komentar atas penampilan seseorang pada saat itu. Memberi  komentar dalam acra semacam ini tidak dilarang, namun sebaiknya MC berhati-hati  untuk tidak terjebak (secara emosional) melucu padahal berujung pada pelecehan. Apa yang dia rasa lucu belum tentu dianggap demikian oleh orang lain, misalnya meledek penampilan fisik seseorang dengan membandingkannya dengan seseorang yang sering menjadi bahan ledekan dalam program televisi.

Acara Santai/Informal

Dalam acara santai audiens diharapkan dapat merasakan suasana yang tidak formal. Untuk itu dipilihlah MC dan seluruh pengisi acara yang sesuai dengan tujuan tersebut. MC acara informal dapat leluasa mencairkan suasana, antara lain dengan sikap yang santai, misalnya tidak hanya berdiri di satu spot melainkan dapat berpindah-pindah atau berjalan-jalan, baik di panggung maupun di area audiens.

MC Acara santai dapat dengan leluasa meminta hadirin untuk bertepuk tangan setiap usai satu acara. Tepuk tangan hadirin yang meriah tentu membuat suasana terasa lebih menyenangkan. Namun kadangkala ada MC yang meminta hadirin untuk sangat sering bertepuk tangan. Ini tentu akan melelahkan, sehingga hadirin tidak lagi antusias atau tulus memberikan tepukan, hanya terkesan terpaksa. Maka lebih baik meminta tepuk tangan secukupnya, tidak berlebihan.

Mudah-mudahan dengan adanya artikel ini bisa menambah wawasan sobat wordpress ia, dan usahakan jangan sampe GJ (ga jelas), atau salah kostum apalagi salah bawain acara gara-gara kurang faham dalam membawakan acara. Selamat mencoba ^_^

jangan lupa kritik dan sarannya ia,,

Iklan